Tips Membuat Skala Likert

Skala Likert dikembangkan oleh Rensis Likert (1932). Dikenal juga dengan nama skala sikap. Skala Likert merupakan skala yang paling banyak dipakai dalam inventori kepribadian karena bentuknya yang simpel dan mudah dalam penggunaannya serta tidak sulit dalam melakukan skoring. Namun demikian, diperlukan kaidah-kaidah tersendiri dalam membuat item pada skala likert. Dibawah ini beberapa tips untuk membuat skala likert.

1. Buat item dengan singkat, padat, dan simpel. Tidak lebih dari 20 kata dalam sebuah pernyataan.

2. Hindari terjadinya makna ganda.

3. Satu pernyataan hanya terdiri dari satu ide tunggal.

4. Hindari pernyataan yang tidak mungkin dipilih oleh seorangpun atau sebaliknya.

5. Hindari terjadinya double negative dalam satu pernyataan.

6. Hindari penggunaan kata yang tidak dipahami oleh responden yang dituju.

Mengapa Perlu Berlatih untuk Menghadapi Tes Numerik

Berikut ini disarikan hasil-hasil penelitian yang menunjukkan mengapa perlu berlatih soal-soal untuk menghadapi psikotes berbentuk numerik/tes psikometri terkait soal hitung-menghitung (Bryon, 2004).

1. Mereka yang rajin berlatih memperoleh nilai yang lebih baik dibanding yang tidak berlatih.

2. Mereka yang memiliki latar belakang pendidikan bukan dari psikologi, mendapatkan manfaat terbesar dari berlatih.

3. Mereka yang tidak memiliki pengalaman atau hanya memiliki sedikit pengalaman, menunjukkan peningkatan dua kali lebih besar dibandingkan mereka yang pernah menjalani tes sebelumnya– dengan berlatih.

4. Peningkatan nilai didapat dari berlatih mengerjakan soal yang serupa dengan soal tes.

5. Latihan dengan materi, situasi, dan kondisi yang sama pada saat tes memberikan hasil yang lebih baik.

6. Kebanyakan peningkatan didapat dengan sangat cepat, setelah itu peningkatan cenderung stabil.

7. Efek pelatihan akan terasa pada jenis tes tertentu, tetapi belum tentu terjadi pada jenis tes yang lain pada orang yang berbeda.

8. Terdapat perbedaan hasil yang besar pada individu akibat berlatih.

9. Individu yang tidak bukan berlatar belakang pendidikan matematika dan bahasa Inggris akan mendapatkan nilai yang tinggi melalui latihan-latihan intensif.

Menentukan Kualitas dan Keunggulan sebuah Model Pengukuran

Dalam analisis regresi, kita sering menemukan bahwa meskipun sebuah model dapat digunakan dari data yang diobservasi dan dimungkinkan mendapatkan hasil dari data tersebut, akan tetapi model yang digunakan bisa saja tidak tepat.  Dalam regresi linear terutama denan model yang cukup spesifik, harus diuji apakah model fit sebelum mengintrepretasikan hasilnya, yakni sebelum menggunakan fungsi-fungsi regresi tersebut untuk memprediksi.

Pada dasarnya, kualitas sebuah model pengukuran terkait dengan keputusan apakah model fit dengan data melalui cara yang tepat.  Ada tiga metode yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah  secara empiris data memenuhi secara layak dari model yang mewakilinya.

1. Goodness of fit tests, metode yang membandingkan frekuensi yang diharapkan secara hipotetis dengan frekuensi yang senyatanya diobservasi dari model tertentu, dengan menguji apakah ada perbedaan yang signifikan atau tidak.

2. Coefficients of goodness of fit, metode ini menggunakan koefisien untuk menjelaskan goodness of fit, diantaranya AIC (Akaike information criterion), BIC (Bayesian Information Criterion).  Pengujian bisa dilakukan dengan menggunakan program R atau SPSS melalui analisis Anova.

3. Cross-validation, goodness of fit test seringkali tidak mencukupi untuk menilai kualitas sebuah model, terutama bila parameter yang diestimasi berjumlah banyak (misal, dalam multiple linear regression).  Sekalipun, sebuah model memiliki goodness of fit yang baik, namun generalisasinya akan dipertanyakan. disinilah digunakan metode cross-validation.  yakni membagi data menjadi dua bagian, dan melakukan analisis respektif secara terpisah untuk kedua paket data tersebut.

Demikian tiga metode untuk menilai kualitas sebuah model.  Untuk informasi lebih detil silahkan baca Statistics in Psychology, Using R and SPSS (Rasch, dkk, 2011)

Mempelajari Sebuah Alat Ukur atau Instrumen Baru

Jika Anda kerja di bagian SDM mungkin Anda pernah ditawari untuk membeli sebuah alat ukur yang Anda sendiri belum familiar dengan alat tersebut. Bagaimana caranya agar Anda dapat memahami alat tersebut sehingga ketrampilan dan pengetahuan Anda meningkat dalam menggunakan alat ukur tersebut?

Di bawah ini langkah-langkah untuk menjadi lebih familiar dengan sebuah alat ukur baru:

1. Bacalah manual alat ukur secara menyeluruh, khususnya di bagian yang berkaitan dengan pengembangan, validitas, dan norma.

2. Cobalah gunakan alat ukur tersebut pada diri sendiri. Usahakan untuk mengikuti sesuai instruksi meng-administrasikan alat ukur tersebut berdasarkan manual yang ada.

3. Estimasi performance Anda pada saat menjalankan tes tersebut. Sejauhmana Anda yakin Anda berhasil mengerjakannya dengan baik? Apa yang kira-kira tes tersebut katakan tentang diri Anda?

4. Skoring (beri nilai) hasil tes Anda dan bandingkan dengan prediksi Anda pada kinerja aktual pada saat menjalani tes tersebut.

5. Jika prediksi Anda mendekati target, Anda memiliki insight mengenai alat ukur tersebut dan bagaimana menginterpretasikan data dari tes tersebut. Jika prediksi Anda berada di bawah skor yang diberikan, pertimbangkan implikasi-implikasi dari temuan ini. Baca ulang manualnya dan lihat apakah Anda menangkap logika sebenarnya dan bagaimana seharusnya alat ukur tersebut diaplikasikan. Ingat ada dua kemungkinan kesimpulan yang muncul: kemungkinan prediksi Anda yang perlu dikalibari atau alat ukur tersebut tidak benar-benar valid. Hingga Anda benar-benar berhasil menyelesaikan dilema ini, menggunakan alat ukur ini dalam assessment bukanlah pilihan yang bijak.

6. Administrasikan alat ukur pada beberapa orang kenalan atau rekan kerja yang Anda kenal dengan baik adalah cara lain untuk mempelajari sebuah alat ukur. Tapi ingat, adalah sangat berguna untuk memprediksi skoring mereka didasarkan pada pengetahuan Anda tentang mereka dan kemudian carilah jalan keluar untuk dari gap yang ada, sekurang-kurangnya dalam pikiran Anda sendiri.

Konsep Sikap dan 7 Saran Menyusun Item dalam Skala Sikap Bertipe Likert

Sikap adalah kecenderungan yang dipelajari untuk merespons secara positif atau negatif sebuah obyek, situasi, atau orang tertentu. Sikap berisi komponen kognisi (pengetahuan), afeksi (emosi dan motivasi), dan kinerja (perilaku atau tindakan). Sikap menunjukkan persetujuan atau ketidaksetujuan. Terkadang orang menyamakan antara konsep sikap, minat, opini, keyakinan, dan nilai.

Minat lebih pada perasaan atau preferensi seseorang terhadap aktivitas tertentu. Bisa saja seseorang tertarik dengan aktivitas tertentu, tanpa memperhatikan apakah pemikiran atau perilaku ini positif atau negatif.

Dibandingkan dengan opini, maka sikap memiliki dampak respons yang lebih umum pada berbagai macam orang atau peristiwa. Orang sadar mengenai opini mereka, namun kadang tidak benar-benar sadar dengan sikap mereka. Opini adalah reaksi khusus terhadap kejadian atau situasi tertentu.

Salah satu metode untuk mengukur sikap salah satunya menggunakan skala Likert yang dikembangkan oleh Rensist Likert. Dikenal dengan method of summated ratings dimulai dengan pengumpulan atau penyusunan banyak sekali item yang mengungkapkan beragam sikap positif dan negatif terhadap obyek atau peristiwa khusus. Dibawah ini 7 saran untuk menyusun item dalam skala Likert:

1. Item harus mengacu pada kondisi saat ini, bukan masa lalu.

2. Item tidak harus berdasarkan fakta atau yang dapat diinterpretasikan sebagai fakta.

3. Item hanya dapat dinterpretasikan dengan satu cara, tidak boleh lebih dari satu cara.

4. Item relevan dengan konsep psikologi yang diukur.

5. Item harus berupaya kalimat sederhana yang hanya berisi satu pemikiran, bukan kalimat majemuk atau kalimat rumit.

6. Hindari item yang: memuat dua kalimat negatif, kata-kata yang tidak dipahami orang awam, kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna, kata sifat atau kata keterangan yang tidak spesifik (misalnya, banyak, kadang-kadang) atau terlalu universal (misal semua, selalu, tak satupun atau tidak pernah).

7. Hindari item yang memakai bahasa slang dan kata pasaran, membuat item dimaknai ambigu dan tidak jelas.

LOWONGAN KERJA!

“Ingin mengembangkan karier di dunia audit bersama tim yang profesional dan berpengalaman? Kami membuka kesempatan bagi Anda untuk bergabung sebagai Supervisor, Senior Staff, dan Junior Staff di kantor akuntan publik. Jika Anda memiliki minat dalam audit eksternal, memiliki ketajaman analitis, semangat untuk terus berkembang, dan ingin berkontribusi dalam proyek-proyek menantang, inilah saatnya untuk mengambil langkah berikutnya dalam karier Anda!”

Kualifikasi untuk Supervisor:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi.
  • Sertifikasi: Lebih diutamakan jika memiliki gelar profesi atau sedang dalam proses memperoleh CPA (Certified Public Accountant).
  • Pengalaman: Minimal lima tahun pengalaman kerja di bidang audit eksternal, dan setidaknya dua tahun di posisi supervisi.

Kompetensi:

  • Mampu menganalisis laporan keuangan dan mengidentifikasi ketidaksesuaian atau potensi risiko.
  • Memahami dan mampu menerapkan standar akuntansi (PSAK, IFRS, GAAP), regulasi terkait audit, dan praktek terbaik dalam industri audit.
  • Dapat menginterpretasikan data keuangan dan menemukan pola atau anomali dalam transaksi.
  • Menguasai proses audit dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian audit.
  • Mampu mengidentifikasi permasalahan yang kompleks dalam proses audit dan mencari solusi sesuai dengan regulasi dan standar audit.
  • Memahami metodologi audit berbasis risiko dan strategi pengujian substantif serta compliance testing.
  • Mampu menyusun dan menyampaikan laporan audit secara jelas dan profesional. 
  • Mampu berkomunikasi secara efektif dengan klien untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. 
  • Memiliki keterampilan negosiasi yang baik dalam menjelaskan temuan audit kepada klien.
  • Mampu memimpin tim audit, memberikan arahan, dan memfasilitasi pertemuan audit.
  • Dapat bekerja secara independen maupun dalam tim dengan supervisi minimal.
  • Memiliki kemampuan supervisi yang kuat untuk mengelola tim, memprioritaskan pekerjaan, dan mengatasi tantangan yang muncul selama proses audit.
  • Dapat membimbing dan mengembangkan anggota tim.
  • Menjunjung tinggi kode etik profesi auditor dan prinsip independensi. 
  • Memiliki sikap skeptis profesional yang kuat dalam melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan.

Kualifikasi untuk senior staff:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi
  • Pengalaman: Minimal dua tahun dalam audit eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Kompetensi:

  • Mampu melakukan analisis yang mendalam terhadap laporan keuangan dan risiko audit.
  • Memahami standar akuntansi (PSAK, IFRS, dan GAAP) serta regulasi terkait audit.
  • Memahami proses audit dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyelesaian audit.
  • Mampu mengidentifikasi ketidaksesuaian dan permasalahan dalam proses audit.
  • Memiliki kemampuan komunikasi verbal dan tertulis yang baik, termasuk dalam menyampaikan hasil audit kepada klien.
  • Mampu membimbing dan mengarahkan junior auditor dalam pelaksanaan tugas audit. 
  • Dapat bekerja secara independen maupun dalam tim dengan supervisi minimal.
  • Mampu mendokumentasikan tugas-tugas atau temuan audit dengan jelas dan terstruktur.
  • Memiliki keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah yang baik.
  • Teliti dalam mengolah data dan informasi audit.

Kualifikasi untuk Junior Staff:

  • Laki-laki/Perempuan
  • Pendidikan: Minimal Sarjana (S1) Akuntansi
  • Pengalaman: lulusan baru (freshgraduate) atau memiliki satu tahun pengalaman dalam audit eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Kompetensi:

  • Memahami dasar-dasar akuntansi keuangan, auditing dan perpajakan.
  • Mengenali standar akuntansi yang berlaku, seperti PSAK, IFRS, atau GAAP.
  • Memiliki pemahaman tentang proses audit eksternal dan risiko audit.
  • Mampu menganalisis laporan keuangan dan mengidentifikasi ketidaksesuaian dasar.
  • Mampu mengarahkan diri sendiri dan bekerja dengan tenggat waktu yang ketat. 
  • Mampu bekerja dalam tim dan memiliki komunikasi yang baik dengan kolega dan klien.
  • Menjunjung tinggi kode etik profesi auditor dan prinsip independensi. 
  • Memiliki sikap profesional yang kuat dalam melakukan peran sebagai auditor.

Kesempatan ini terbuka bagi Anda yang ingin berkembang dan berkontribusi di dunia audit eksternal. Jika Anda memenuhi kualifikasi dan siap untuk mengambil tantangan baru, jangan ragu untuk melamar!

Kirimkan CV dan surat lamaran Anda ke rekrutmen@akuntansi.id  dengan mencantumkan posisi yang dilamar dan nama Anda di subjek email (contoh: supervisor_Abidin) sebelum Jumat, 30 Mei 2025.  Kami tunggu kehadiran Anda dalam tim kami!”

Tips Menghadapi Psikotes Kerja

Untuk Anda yang sedang mendapat panggilan kerja, salah satu fase yang harus dilewati selain proses wawancara kerja yaitu mengikuti tes psikologis atau psikotes. Psikotes merupakan tahapan seleksi untuk mengetahui karakteristik kerja seseorang dan bagaimana kecocokan karakteristik tersebut dengan budaya perusahaan dan tipe pekerjaan yang akan ditangani. Tujuan dari psikotes adalah untuk mengukur kemampuan, keterampilan serta karakteristik individu secara psikologis.

Jika Anda belum mengetahui apa itu tes psikologis atau psikotes, maka sebelum mengikuti tes ini wajib mencari tahu atau melakukan riset terlebih dahulu. Mencari tahu bagaimana proses psikotes,  juga dapat membantu Anda melewati soal tes dengan baik. Psikotes sendiri terdiri dari beberapa jenis tes, jadi penting untuk memahami tes ini dengan baik.

Berikut tips menghadapi psikotes kerja:

1. Persiapan fisik

Persiapan satu ini merupakan persiapan dasar yang tidak kalah penting sebelum menghadapi psikotes kerja. Saat mengikuti psikotes, kita  dituntut untuk memiliki fokus yang baik dalam mengerjakan setiap soal dengan batasan waktu yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, usahakan kondisi fisik benar-benar fit, jangan lupa untuk makan terlebih dahulu sebelum mengikuti tes. Pastikan untuk istirahat yang cukup agar tubuh dan pikiran menjadi lebih segar dan siap menghadapi psikotes.

2. Datang tepat waktu

Datang tepat waktu sangat penting ketika mengikuti psikotes.  Ini  memberikan kesan yang baik dan menunjukan bahwa kita serius dalam mengikuti tes. Berbeda jika kita datang terlambat, selain memberikan kesan buruk, datang terlambat juga membuat kita merasa terburu-buru dan cemas saat mengerjakan soal. Selain itu, jika psikotes ini diikuti oleh beberapa peserta, dapat mengganggu konsentrasi mereka yang sedang mengerjakan tes.

3. Memahami instruksi dengan cermat

Psikotes biasanya terdiri dari beberapa jenis tes psikologi, seperti tes IQ, tes kepribadian, tes kemampuan dan lain sebagainya. Setiap jenis tes ini memiliki cara mengerjakan yang berbeda, mulai dari ketentuan hingga waktu pengerjaannya.  

Oleh karena itu, ketika diberikan soal psikotes, hal pertama yang dilakukan adalah jangan buru-buru untuk mengerjakannya. Luangkan waktu sebentar untuk membaca instruksi dengan cermat hingga paham. Baca dan pahami setiap instruksi, perintah, maupun larangan yang diberikan. Jika ada instruksi  yang kurang jelas atau tidak dipahami, Anda bisa menanyakan hal tersebut.

4. Fokus, teliti, dan tenang

Fokus, teliti, dan bersikap tenang merupakan kunci utama dalam memudahkan kita mengerjakan psikotes dengan baik. Kerjakan dan baca setiap soal dengan fokus. Teliti dan hindari distraksi yang dapat menghambat kita dalam mengikuti psikotes. Yang terakhir yang tidak kalah penting adalah bersikaplah tenang. Meskipun psikotes memiliki batasan waktu, namun jangan sampai Anda terburu-buru dalam mengerjakannya.  

Tanpa ketiga hal tersebut diatas , hasil yang diharapkan akan jauh dari kenyataan. Meskipun Anda pandai dan cerdas, tetapi tanpa fokus, ketelitian, dan ketenangan, hal ini menjadi sebuah kekurangan. Bahkan bisa membuat Anda gagal ujian tes.

5. Miliki manajemen waktu yang baik

Salah satu hal yang membuat kandidat gagal dalam psikotes karena manajemen waktu yang buruk. Mereka tidak mampu me-manage waktu dengan baik dalam menjawab atau mengerjakan soal psikotes. Tips penting yang harus dilakukan adalah ketika Anda sudah menjawab satu soal, segera fokus ke soal berikutnya. Kerjakan soal secara berurut jika ingin optimal. Hal ini demi menjaga konsentrasi sekaligus mengatur kecepatan dalam mengerjakan soal. Psikotes memang bisa dibilang gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Psikotes menuntut pemahaman kita tentang diri sendiri. Tidak ada jawaban benar atau salah dalam soal-soal kepribadian. Dalam penilaian psikotes, bukan hanya kecerdasan yang dipertimbangkan, tetapi juga karakter pribadi yang diinginkan oleh perusahaan. Maka dari itu, yakin dalam menjawabnya. Semakin Anda mengenali diri sendiri, semakin baik Anda menjalaninya.

Gaji Besar-pun Takkan Cukup Jika Gaya Hidup Boros

Ada banyak orang berpikir dengan mendapatkan gaji besar, maka semuanya akan berjalan mulus. Seolah Anda telah merdeka secara finansial. Sebuah pepatah mengatakan: uang itu bisa diibaratkan seperti air. Jika tidak dialirkan ke saluran yang tepat, maka bisa bocor atau luber.

Lalu, bagaimana seharusnya sikap seseorang yang memiliki gaji besar agar tidak boros? Ada enam hal yang mesti dilakukan untuk mengalirkan uang ke pos-pos yang semestinya.

Anggaran bulanan

Anda mesti membuat anggaran bulanan, mengarahkan uang gaji ke pos-pos seharusnya. Dengan melakukan ini, Anda lebih mudah mencermati kemana aliran uang gaji Anda pergi. Tentu ini berlaku buat orang yang gajinya kecil maupun besar. Hanya saja, orang bergaji besar sedikit lebih leluasa melakukan ini-itu.

Bayar tagihan atau hutang

Ketika Anda membuat anggaran bulanan, pos pertama yang harus diprioritaskan adalah membayar tagihan atau hutang. Sebab, tagihan atau hutang, jika tidak dibayarkan tepat waktu akan memberi beban tambahan, yaitu bunga. Jadi, sebisa mungkin bayar tagihan tepat waktu. Dan Anda sebaiknya melunasi sebelum membuat hutang lagi.  Hidup tanpa hutang sesungguhnya jauh lebih baik.

Menabung

Pos kedua yang wajib dibuat, setelah membayar tagihan atau hutang, adalah menabung. Anda sebaiknya memprioritaskan bagian ini terlebih dulu, baru memprioritaskan kebutuhan. Jangan sampai dibalik, memprioritaskan kebutuhan baru memprioritaskan tabungan – ini salah. Jika perlu, maka Anda perlu membuat dua rekening – satu untuk meletakkan tabungan (jadi tanpa ATM) dan satunya lagi untuk keperluan sehari-hari (boleh menggunakan ATM).

Buat laporan keuangan harian

Kegiatan yang satu ini akan membuat Anda seolah-olah menjadi orang yang pelit dan penuh perhitungan. Namun ketahuilah hal ini perlu Anda lakukan untuk melihat arah uang harian keluar dari dompet. Jika sudah mengetahuinya, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk menilai apakah uang keluar sudah sesuai posnya?

Bandingkan pemasukan dan pengeluaran

Orang dengan gaji besar bisa jadi bertanya-tanya mengenai alasan dirinya harus memikirkan soal pemasukan dan pengeluaran? Toh, bulan depan, dia akan mendapatkan gaji lagi, ya kan? Pemikiran itu tidak salah, namun kurang pas. Sebisa mungkin Anda tetap harus mensinkronkan antara pemasukan dan pengeluaran.

Investasi

Anda harus “melek” investasi. Tentu sangat disayangkan jika Anda mendapatkan gaji besar, tapi tidak bisa mengembangkan uang tersebut bekerja untuk Anda. Itulah kenapa Anda perlu mempelajari instrumen investasi yang tepat bagi Anda sendiri.

Bekerja dengan gaji besar tentu merupakan anugerah tersendiri. Tidak semua orang berkesempatan untuk mendapatkannya. Namun, jangan mentang-mentang gaji bulanan besar, Anda tidak mau mengelolanya – merasa bahwa Anda “pasti” akan mendapatkan gaji besar itu terus adalah pemikiran yang salah.

Justru dengan gaji yang besar, Anda harus mengelolanya dengan bijak. Dengan gaji besar Anda bisa sedikit melakukan “manuver” keuangan. Anda bisa mengambil kursus atau pelatihan untuk diri sendiri yang dapat mendukung perkembangan karir Anda, sehingga peluang Anda untuk mendapatkan gaji lebih besar semakin terbuka.

Apa itu Kompetensi?

Apa itu Kompetensi?

Tingkat kemampuan seseorang dalam bekerja sehingga bisa berkinerja unggul seringkali disebut sebagai tingkat kompetensi.  Kompetensi dapat diukur secara relatif dengan suatu instrumen Penilaian Kompetensi, merupakan salah satu jenis tes kerja. Selain itu ada juga pengukuran perilaku dan juga tes psikologi, dan lain-lain. Kesemuanya merupakan bagian dari alat tes assessment center. Pembahasan mengenai kompetensi secara lebih lanjut bisa disimak sebagai berikut.

Definisi Kompetensi

Kompetensi adalah gambaran kemampuan individu dalam menuntaskan pekerjaan, merupakan bagian karakteristik seseorang yang dibentuk dari pengalaman, pendidikan, dan lingkungan sosialnya. Kompetensi menjadi salah satu ukuran dari kinerja atau performance yang ditampilkan karyawan. Kata kompetensi itu sendiri berasal dari bahasa Inggris, yakni competency, yang memiliki arti  kecakapan ataupun kemampuan, merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan dan sikap  kepribadian yang bisa meningkatkan kinerja karyawan, sehingga diharapkan karyawan mampu memberikan kontribusi terhadap kesuksesan organisasi. Karenanya penting untuk melakukan penilaian kompetensi guna memprediksi perilaku karyawan dalam berbagai situasi kerja.

Sejarah Penilaian Kompetensi

Istilah penilaian kompetensi atau Competency assessment pertama kali diperkenalkan David McClelland di tahun 1973 dalam artikelnya yang berjudul Testing for competence rather than for intelligence. Di tahun 1982, Boyatzis melakukan pengumpulan data komprehensif dengan mempergunakan metode yang dikembangkan oleh McBer and Company, yakni Job Competence Assessment atau penilaian kompetensi kerja. Mulai saat itulah kompetensi menjadi faktor penting untuk menilai kemampuan kerja karyawan dan menjadi pertimbangan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia.

Elemen Kompetensi

Terdapat tiga elemen kompetensi sebagai berikut:

Motives atau Motif. Motif adalah latar belakang mengapa seseorang memikirkan dan menginginkan sesuatu. Pemikiran yang konsisten muncul pada diri seseorang sehingga menyebabkannya mengambil tindakan. Motif memunculkan ciri-ciri atau traits pada diri seseorang. Motif juga memunculkan respon-respon yang konsisten dalam berbagai situasi formal ataupun informasi.  Tindakan dan perilaku kerja seringkali didasari oleh motif-motif tertentu, sehingga memahami konsep diri, sikap, dan nilai-nilai yang dianut seseorang dapat memberikan gambaran tentang kemungkinan kinerja seorang karyawan.

Knowledge atau Pengetahuan. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh seorang individu dalam suatu area spesifik yang tertentu.

Skill atau Keterampilan. adalah kecakapan seorang individu untuk menampilkan tugas fisik ataupun tugas mental tertentu yang dibutuhkan untuk menuntaskan suatu pekerjaan.

Berdasarkan bagiannya, kompetensi bisa dibagi menjadi dua bagian, yakni:

Bagian Surface atau permukaan. Bagian kompetensi yang dapat dilihat dan dikembangkan disebut surface competency atau kompetensi permukaan. Kompetensi yang nampak dari luar dan lebih mudah diukur, yakni pengetahuan dan keterampilan atau keahlian.

Core atau Inti. Bagian kompetensi yang tidak dapat dilihat dan juga sulit untuk dikembangkan disebut dengan core atau sentral atau inti, yakni sifat, sikap, dan motif, juga nilai-nilai. Bagian inti menjadi dasar bagaimana kompetensi seseorang ditampilkan atau dikembangkan.

Demikian sekilas tentang kompetensi

Skill Entrepreneurship yang Wajib Anda Miliki

Skill entrepreneurship perlu terus ditambah dalam diri ketika kita memimpikan untuk menjadi pengusaha yang berhasil dan sukses. Menjadi pengusaha sukses tentu tidak bisa dicapai dengan waktu yang singkat, selain faktor kerja keras dan daya juang.

Kita juga perlu mempunyai keahlian atau skill entrepreneurship yang baik sehingga mampu menjalani bisnis dengan baik. Lalu skill apa saja yang perlu dimiliki agar menjadi pengusaha sukses?

Membagi tugas dengan baik

Salah satu skill entrepreneurship yang wajib dikembangkan adalah kemampuan mengorganisasikan beragam tugas dengan baik. Jika Anda sudah membuat rencana bisnis, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah bagaimana mengimplementasikannya.  Maka Anda  harus mampu membagi tugas karena tidak semua hal bisa Anda lakukan sendiri. Anda bisa memulai dengan mengatur prioritas dan jadwal kerja, serta pembagian pekerjaan. Dengan adanya jadwal dan pengaturan tersebut, maka Anda bisa mengevaluasi semua hal dengan lebih mudah sehingga tidak ada hal yang terlewat.

Selalu kreatif

Untuk menjadi entrepreneur sukses atau pengusaha yang berhasil, maka Anda juga perlu memiliki kemampuan berpikir kreatif. Kreatifitas diperlukan agar usaha Anda bisa tampil berbeda atau menonjol dalam kompetisi pasar. Disamping itu, Anda juga harus menjadi pribadi yang terbuka dalam menampung ide-ide baru dan mewujudkannya apabila ide tersebut menarik.  Kreatifitas tidak hanya soal produk dan jasa saja, tetapi juga mencakup segala proses bisnis, misalnya dalam mempromosikan atau menawarkan produk dan jasa kepada klien.

Selain kedua hal tersebut, memiliki fokus kuat dalam bisnis akan membantu Anda mengembangkan bisnis tersebut.  Artinya Anda tidak akan mudah berpindah bisnis hanya karena Anda melihat orang lain mudah menjalankan bisnis tersebut. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan dan kemampuan untuk terus belajar seumur hidup (lifelong learner).  Dengan memiliki mindset pembelajar, maka Anda bisa belajar tentang skill entrepreneurship lainnya untuk memaksimalkan potensi bisnis Anda.

Selamat menjadi pebisnis handal!

Our Partner